Agrogelogi

The Lost Sciences..

Agrogeologi, Ilmu yang Terlupakan…

HARI ini, sejarah baru telah terukir. Untuk pertama kalinya di seluruh dunia didirikan Pusat Pengembangan Agrogeologi. Inilah yang pertama kali di dunia, sebuah perguruan tinggi mendirikan sebuah pusat kajian yang mendalami Agrogeologi secara khusus. Walaupun sebenarnya ilmu ini mulai dikenalkan pada masyarakat abad ke-19 lalu, ungkap Prof Dr Peter van Straaten.

Guru Besar dan Pakar Agrogeologi dari University of Guelph, Kanada, itu tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya ketika Pusat Pengembangan Agrogeologi (PPA) di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, tanggal 14 Juni lalu resmi dibentuk dan didirikan oleh Rektor Unsoed Prof Rubiyanto Misman. Straaten, yang juga menjadi konsultan persiapan dan pendirian PPA memang pantas bergembira.

Universitas tempatnya mengajar di Kanada pun sampai kini memang belum memiliki pusat kajian Agrogeologi sendiri, walaupun “perkawinan” ilmu pertanian dan geologi itu sudah lama dikembangkan.

Agrogeologi memang ilmu “turunan” yang terlupakan. Di bidang pertanian, pamornya “kalah” dibandingkan Agrobisnis dan Agronomi. Sebaliknya, di bidang perbatuan, Agrogeologi tidak se-moncer Geodesi, yang sampai dibuat jurusan tersendiri di sejumlah perguruan tinggi. Padahal, Agrogeologi sudah menjalani sejarah yang panjang sebagai sebuah ilmu. Bahkan, diyakini Agrogeologi sebagai ilmu dilahirkan pada abad XIX, tepatnya tahun 1853/1854 yang ditandai dengan pemikiran Missoux.

Secara sederhana, Hensel (1890-1894) mengenalkan dan mengembangkan Agrogeologi sebagai “makanan dari bebatuan”. Bahkan, untuk pertama kalinya, pada tahun 1909 digelar Konferensi Internasional Agrogeologi di Budapest, Hongaria. Agrogeologi memang terus dikembangkan, walaupun tidak terlalu banyak diketahui orang. Sampai tahun 1948, Straaten menjelaskan, Keller mengistilahkan Agrogeologi sebagai pupuk dari mineral alamiah dan karang (batu).

University of Guelph, Kanada, dan University of Western Ontorio, Kanada, merupakan dua perguruan tinggi yang secara kontinyu melakukan penelitian dan uji coba Agrogeologi, yakni memanfaatkan mineral alam (batuan) untuk mengembalikan kesuburan tanah sejak tahun 1982 sampai saat ini. Di Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB) pun pada tahun 1980-an aktif mengembangkan pemanfaatan batuan, seperti kapur dan zeolit untuk meningkatkan kesuburan tanah. Walaupun tidak dikenalkan sebagai kajian Agrogeologi, tetapi yang dilakukan IPB dan lembaga lain di Indonesia sebenarnya merupakan pemanfaatan dan pengembangan ilmu tersebut.

Dalam sejarah keilmuan, Indonesia pun sebenarnya pernah mempunyai ahli dan tokoh ternama bidang Agrogeologi. Ia adalah Prof Dr FA van Beren yang “mendirikan” Jurusan Tanah di Fakultas Pertanian IPB, sekitar tahun 1946, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Universitas Indonesia (UI). Beren mengajar mata kuliah Agrogeologi di IPB dan sebelumnya di Lanbouw Hogeschool. Agrogeologi di negeri ini jarang dikenalkan sebagai sebuah ilmu, kecuali melalui penelitian dan uji coba, apalagi setelah Beren tahun 1957 kembali ke Eropa.

UNTUK mengenalkan kembali ilmu itu, Rubiyanto mengutip pendapat Cheswort (1970) yang menyebutkan, Agrogeologi sebagai prinsip yang sederhana. Agrogeologi awalnya merupakan studi tentang proses terjadinya pupuk alami dari proses pembusukan atau kerusakan dari batuan karang vulkanis atau sejenis batu basal sebagai akibat tekanan iklim yang menghasilkan unsur penting seperti karbon, hidrogen, oksigen, fosfor, kalium, kapur, belerang, besi, seng, dan tembaga. Agrogeologi adalah kajian terhadap produk material mineral dari proses alami yang bermanfaat dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, peternakan, dan perikanan.

Lebih sederhana lagi, Straaten menyebutkan Agrogeologi merupakan Geologi yang melayani Pertanian (agriculture). Bagaimana memanfaatkan proses geological dan bebatuan/material untuk memperbaiki kondisi pertanian, khususnya kondisi tanah yang semakin kehilangan zat haranya. Agrogeologi perlu semakin dikembangkan, karena kini tak kurang dari 1,2 miliar penduduk dunia hidup dengan penghasilan kurang dari satu dollar Amerika Serikat (AS)-sekitar Rp 8.300-per hari. Kondisi ini terjadi karena makin banyak orang yang tidak mempunyai tanah atau tanahnya sudah tidak layak lagi ditanami.

Sekalipun sudah dikenalkan sejak abad ke-19, tetapi diakui Rubiyanto, Agrogeologi memang banyak berkembang di Indonesia. Padahal, sejumlah negara di Benua Afrika dan Amerika kini mengembangkan dan memanfaatkannya untuk mengembalikan kesuburan tanah. Pengembangan Agrogeologi di Indonesia semestinya lebih mendapat tempat lagi karena kekayaan di bidang pertambangan dan pertanahan (Geologi) di era otonomi daerah mempunyai nilai yang tinggi dan strategi. Pemerintah kabupaten/kota harus mempunyai peta Geologi dan tahu bagaimana memanfaatkan kekayaan tersebut.

Jika, kekayaan batuan/mineral alam itu dimanfaatkan sungguh untuk mendukung pertanian, bukan hanya pemerintah daerah memperoleh tambahan pendapatan, tetapi jaminan pangan warganya pun bisa terjadi. Straaten pun mengungkapkan kisah sukses penerapan Agrogeologi di Afrika, khususnya di Kenya Barat.

Dengan memanfaatkan batuan lokal yang banyak di daerah itu, khususnya fosfat, dan didukung teknologi sangat sederhana yang dikembangkan warga, tingkat kesuburan tanah di daerah itu yang sempat merosot bisa dikembalikan. Bahkan, kini ada lebih 150.000 keluarga di Kenya Barat yang sempat terancam kelaparan sudah “terjamin” ketersediaan pangannya.

Warga Kenya Barat sebenarnya juga “terpaksa” kembali ke alam, menyuburkan tanahnya dengan cara Agrogeologi. Tetapi, mereka tidak mempunyai pilihan lain sebab harga pupuk urea teramat mahal di wilayah itu. Harga satu ton pupuk urea bisa mencapai 400 dollar AS-sekitar Rp 2,5 juta- pada tahun 1999. Mereka tidak mempunyai dana.

Diingatkan Straaten pula, walaupun Agrogeologi merupakan perpaduan Geologi dan Agrikultur, tetapi sukses penerapannya di lapangan harus didukung oleh bidang lain. Seperti di Kenya Barat, keberhasilan penerapan Agrogeologi di wilayah itu karena dilakukan secara interdisipliner.

Berbagai bidang keilmuan di luar geologi dan pertanian, seperti budaya, sosiologi, dan ekonomi pun turut berperan. Agrogeologi tidak mungkin berjalan sendiri. (TRA)

dikutip dari koran Kompas, 27 juni 2003.

About Eirlangga

Nama : Eirlangga Status : mahasiswa. kampung halaman : JAmbi

Diskusi

One thought on “The Lost Sciences..

  1. da angggggaaaaaaaaaaaaa
    bagus ya web site nya…
    sering-sering aja di up date ya

    Posted by crista | Rabu, Mei 21, 2008, 4:17 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya

Si TUKANG KETIK !!!

”(^_^)..v”
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Follow EIRLANGGA COFFE CORNER on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: