gempa vulkanis

Meramal Gempa

Lupakah Kita Meramal Gempa?

“Apakah peramalan andal untuk gempa merupakan tujuan ilmiah realistik?”

(Debat dalam Majalah Nature, 1999)

Setelah rentetan gempa mengguncang Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir, penduduk Indonesia banyak yang lalu menerima fakta tak terbantahkan bahwa Indonesia berada di lingkaran “Cincin Api” (Ring of Fire) yang harus siap kapan saja diguncang gempa. Penduduk Indonesia—dengan mengecualikan sebagian Kalimantan (mengikuti peta gempa yang diterbitkan National Geographic, April 2006)—dari Sabang sampai Merauke sudah harus belajar untuk hidup dengan gempa. Pemerintah juga sudah harus punya standar prosedur untuk menghadapi gempa, berlatih bersama masyarakat dalam program mitigasi untuk meminimalkan kekuatan alam yang dilepas dengan amat dahsyat ini.

Terjadinya rentetan gempa juga telah membuat bidang geologi dan geofisika terangkat pamornya. Masyarakat bertambah paham tentang lempeng tektonik Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Yang masih bisa dipertanyakan, apakah minat orang muda Indonesia untuk mendalami ilmu-ilmu kealaman di atas—berkaitan dengan banjir dan amukan badai juga terhadap meteorologi—lalu juga meningkat? Ini soal yang relevan karena kemarin ini jumlah ilmuwan gempa di Indonesia disebut-sebut tak lebih dari hitungan jari.

Lebih jauh lagi, di antara ilmuwan yang sedikit tersebut, berapakah yang mendedikasikan diri dalam bidang peramalan gempa?

Mengundang minat

Mengingat potensi menghancurkannya yang sangat besar, ilmuwan di sejumlah negara amat tertarik untuk punya ilmu yang bisa digunakan untuk meramal gempa, persisnya meramalkan lokasi dan saat terjadinya gempa besar.

Sebenarnya, sekarang ini para ahli telah banyak mengetahui tentang “di mana” gempa kemungkinan akan terjadi, tetapi hingga sekarang mereka tidak memiliki pengetahuan untuk mengetahui hari atau bulan satu gempa akan terjadi di lokasi spesifik mana pun.

Di seluruh dunia, catat Ruth Ludwin di The Pacific Northwest Seismograph Network, setiap tahun terjadi sekitar 18 gempa dengan skala atau magnitudo (M) 7,0 atau lebih besar. Angka tahunan aktual sejak 1968 berkisar dari yang rendah sebanyak 6 sampai 7 kejadian per tahun pada 1986 dan 1990 hingga yang tinggi sebanyak 20-23 kejadian per tahun pada 1970, 1971, dan 1992.

Menurut Ludwin, meski para ahli belum bisa meramalkan gempa individual, gempa-gempa besar dunia memiliki pola spasial jelas serta “prakiraan” mengenai lokasi dan magnitudo beberapa gempa besar masa datang bisa dibuat. Ini didukung oleh pengetahuan bahwa sebagian besar gempa besar terjadi di zona-zona patahan panjang di sekitar tepian Samudra Pasifik. Aktivitas ini tak bisa dipisahkan dari aktivitas lain di Samudra Atlantik yang tumbuh meluas, setiap tahunnya melebar beberapa sentimeter, sementara Pasifik menyempit ketika dasar samudra didesak di bawah kontinen Cekung Pasifik.

Dari situasi yang ada, sesungguhnya secara geologi adanya gempa di Cekung Pasifik merupakan hal normal dan akan selalu terjadi. Magnitudo dan saat terjadinya (timing) gempa dikontrol oleh ukuran segmen patahan, kerasnya batuan, dan jumlah tekanan (stress) yang ditumpuk. Untuk patahan dan gerakan lempeng yang sudah diketahui baik, bisa diketahui mana segmen patahan yang paling besar kemungkinan patah. Lalu, kalau satu segmen patahan diketahui pernah patah dalam satu gempa besar di masa lalu, maka saat berulangnya kejadian serupa dan ancar-ancar besarnya magnitudo bisa diperkirakan berdasarkan ukuran segmen patahan tadi, riwayat pecahnya, serta akumulasi stress-nya.

Namun, teknik prakiraan ini hanya bisa digunakan untuk patahan yang sudah sangat dipahami, seperti San Andreas. Sebaliknya, prakiraan tak bisa dilakukan untuk patahan-patahan yang sedikit saja diketahui, seperti halnya yang menyebabkan gempa di Northridge, California, tahun 1994 dan gempa di Kobe, Jepang, tahun 1995.

Ada yang berhasil

Di negara maju, seperti di AS, prakiraan gempa pernah dibuat untuk selang waktu empat tahun (1988-1992), yakni untuk wilayah Parkfield, California. Namun, gempa tak kunjung terjadi hingga tahun 2004, lama setelah jendela ramalan habis. Namun, ahli-ahli Amerika bertekad untuk bisa “menangkap” gempa Parkfield dengan jaringan instrumentasi yang rapat. Dengan itu diperoleh data untuk menetapkan apakah ada efek pendahuluan (precursory). Selain itu, juga memberi pemahaman baru mengenai mekanika patahnya patahan.

Pengetahuan yang dikumpulkan itu selanjutnya memang dijadikan referensi untuk meramalkan gempa besar berikut. Dari sini pula bisa dikenali ada tidaknya gempa pendahuluan (foreshock), yang berukuran sekitar skala 5 dan terjadi 2 sampai 15 bulan sebelum gempa yang menghancurkan. Dengan adanya data itu pula pihak USGS (Survei Geologi Amerika Serikat) bisa mengeluarkan pedoman bagi masyarakat melalui Biro Layanan Darurat California. Sayangnya, secara ilmiah foreshock tidak bisa dibedakan dari gempa independen.

Dalam sejarah peramalan gempa, satu yang dianggap berhasil adalah untuk gempa Haicheng, China, tahun 1975, di mana peringatan evakuasi dikeluarkan pada hari sebelum terjadinya gempa bermagnitudo 7,3. Dasarnya adalah tampaknya perubahan pada tinggi permukaan tanah pada bulan-bulan sebelumnya, juga pada tinggi air tanah, banyaknya laporan mengenai perilaku aneh binatang, dan banyak foreshock yang kemudian memicu dikeluarkannya peringatan tingkat rendah. Ketika foreshock meningkat, pihak berwenang lalu mengeluarkan peringatan evakuasi.

Meningkatkan kepekaan

Di sini ingin dikatakan bahwa memang hingga sejauh ini ilmuwan belum berhasil menemukan cara jitu untuk meramalkan gempa meskipun dulu sempat mencoba mendapatkan cara itu, bahkan dengan melihat benda- benda langit yang amat jauh, yakni quasar.

Namun, fakta ini kiranya tidak perlu mengecilkan hati ilmuwan gempa di Indonesia. Urgensi untuk mengetahui seluk- beluk gempa yang amat tinggi diharapkan terus memacu ahli gempa Indonesia agar semakin gigih memikirkan teknik peramalan gempa. Masyarakat Indonesia sendiri diharapkan makin membuka diri terhadap fenomena alam, mengasah kepekaan—walaupun tak dimaksudkan bisa menandingi satwa.

Mungkin itu satu amanat yang besar justru ketika manusia kini semakin lengket terhadap materi dan hidup tanpa permenungan, yang berdampak pada susutnya kepekaan batin terhadap sinyal alam. (NINOK LEKSONO)

 

About Eirlangga

Nama : Eirlangga Status : mahasiswa. kampung halaman : JAmbi

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya

Si TUKANG KETIK !!!

”(^_^)..v”
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Follow EIRLANGGA COFFE CORNER on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: